Jadi Sumber Pangan Alternatif, Jagung Mampu Tembus Pasar Milenial

Jadi Sumber Pangan Alternatif, Jagung Mampu Tembus Pasar Milenial

Universitas Borobudur –Jagung merupakan salah satu hasil pertanian yang dapat dijadikan alternatif pangan pokok, jika terjadi kelangkaan beras. Selain rasanya enak, tanaman pertanian ini juga mudah untuk dibudidayakan.

“Pemilihan jagung sebagai salah satu alternatif sumber pangan penghasil karbohidrat tepat adanya. Apalagi jagung merupakan salah satu tanaman yang mudah dibudidayakan dan sesuai dengan kondisi ekologi dan iklim di Indonesia. Iklim di Indonesia dengan karakteristik suhu optimum 32-35 derajat celcius dan (jagung) mampu beradaptasi pada lahan kering,” ujar Pengajar Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borobudur, Fetty Dwi, Selasa (9/6/2020).

Dia menjelaskan, biaya tanam jagung relatif lebih murah dibanding padi. Selain itu umurnya tanamnya juga singkat dan dapat dikembangkan dengan cara urban farming.

“Biaya tanam untuk jagung relatif murah dan tergolong tanaman yang cepat panen, sehingga saat ini jagung direkomendasikan sebagai salah satu komoditi pertanian yang dapat dikembangkan dalam urban farming dan dapat menjadi salah satu solusi untuk ketahanan pangan di tengah pandemi COVID-19,” jelasnya.

Menurut Fetty, nilai ekonomi jagung juga dapat bersaing di pasar. Karena dalam praktiknya jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai olahan, baik pangan maupun non-pangan.

“Dalam praktiknya jagung tetap dilirik masyarakat karena jagung dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai keperluan baik pangan maupun non pangan,” katanya.

Dikatakan Fetty, saat ini jagung mampu menembus pasar milenial. Dia mengatakan saat ini sudah banyak makanan kekinian yang dibuat dengan bahan dasar jagung seperti pop corn atau jasuke (Jagung susu Keju).

Namun, dia mengingatkan perlunya memperhatikan pengelolaan pasca-panen agar nilai ekonomi jagung tinggi di pasaran.

“Meningkatkan nilai ekonomi jagung tidak sulit, hanya saja saat ini diperlukan pengelolaan pasca-panen yang tepat untuk mempertahankan eksistensi jagung di pasaran baik dalam bentuk olahan produk, packaging dan sebagainya,” katanya. (Istihanah Soejoethi)

4 Kelebihan Urban Farming Dibanding Pertanian Konvensional

4 Kelebihan Urban Farming Dibanding Pertanian Konvensional

Universitas Borobudur – Urban Farming atau pertanian Perkotaan adalah salah satu cara bercocok tanam di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit dengan variasi teknik. Metode ini menjadi solusi masyarakat perkotaan yang ingin bercocok  tanam di tengah keterbatasan lahan.

Dalam penerapannya, urban farming mudah dilakukan masyarakat perkotaan dan hasilnya juga memiliki nilai ekonomi. Dengan memanfaatkan alat dan bahan sederhana dan lahan sempit, urban farming mampu menghasilkan produk pangan yang sama dengan pertanian konvensional.

Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Borobudur, Jakarta, Fetty Dwi R, mengungkapkan ada beberapa kelebihan urban farming dibanding pertanian konvensional. Apa saja kelebihan urban farming? .

1. Hemat biaya
Urban farming atau pertanian perkotaan tidak membutuhkan lahan luas. Metode ini bisa diterapkan di lahan sempit di perkotaan sehingga tidak membutuhkan modal besar. Ini berbeda dengan pertanian konvensional yang memerlukan lahan luas sehingga juga membutuhkan modal besar.

2. Ramah lingkungan
Urban farming atau pertanian perkotaan dikenal lebih ramah lingkungan karena dapat menggunakan sampah rumah tangga. Misalnya dengan memanfaatkan barang bekas seperti kaleng, pipa bekas, ember plastik yang tidak terpakai sebagai wadah (reuse) atau pot saat bercocok tanam.

Selain itu, sampah dapur dan sampah pekarangan juga dapat dimanfaatkan dengan diolah menjadi pupuk organik. Ini menjadi keunggulan ekologis dari urban farming dibanding pertanian konvensional.

3. Dapat menambah estetika
Selain sumber pangan, tanaman yang ditanam dengan metode urban farming juga dapat berfungsi untuk mempercantik pekarangan rumah. Ini tak lepas dari kerapian dalam penataan tanaman.

4. Menghasilkan produk yang sehat
Hasil produksi urban farming lebih sehat karena minim dalam penggunaan bahan kimia. Minimnya penggunaan bahan kimia karena ukuran media yang digunakan tidak terlalu besar dan luasan lahan yang relatif sempit sehingga penggunaan bahan kimia menjadi lebih sedikit. Berbeda dengan pertanian konvensional yang luas sehingga secara intensif menggunakan bahan kimia untuk perawatan tanaman. (Istihanah Soejoethi)

Jenis Tanaman yang Dapat Tumbuh di Pekarangan Rumah

Jenis Tanaman yang Dapat Tumbuh di Pekarangan Rumah

Jakarta – Berkebun merupakan salah satu kegiatan menyenangkan utnuk mengisi waktu luang selama menjalani kegiatan di rumah. Saat ini, banyak sekali varietas tanaman yang dapat tumbuh di pekarangan.

Namun, agar tidak salah, sebaiknya perhatikan dulu jenis tanah dan iklim daerah sekitar sebelum mulai bercocok tanam di pekarangan rumah. Karena kedua hal itu merupakan faktor penting untuk membudidayakan tanaman di rumah.

“Jenis tanaman yang cocok untuk di pekarangan banyak sekali. Namun perlu disesuaikan dengan lokasi karena akan berkaitan dengan jenis tanah dan iklim sebagai faktor utama penentu kesesuaian tanaman dlm menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman,” ujar pengajar Fakultas Pertanian, Universitas Borobudur Fetty Dwi, saat dihubungi SariAgri, Jumat (12/6/2020).

Lebih lanjut Fetty menjelaskan selain menambah keindahan, tanaman juga dapat memberikan efek kesegaran baik di luar dan di dalam rumah.

“Tanaman yang cocok membuat kesegaran udara yang spesifik sebagai peneduh di pekarangan rumah dan dapat dikonsumsi yaitu dengan memilih tanaman buah, seperti pohon mangga, pohon nangka, pohon jambu, pohon rambutan, dan lainnya,” kata Fetty.

“Sedangkan, tanaman yang cocok untuk membuat kesegaran di dalam rumah dan sebagai tanaman hias misalnya tanaman paku pedang, tanaman lidah mertua, tanaman sirih Gading, tanaman lidah buaya dan lainnya,” tambahnya.

Sementara itu, untuk sayuran hanya jenis tertentu dan memiliki karakteristik umum seperti Kangkung, bayam, pakcoy, selada, tomat, kacang panjang, cabai, sawi dan terong yang dapat tumbuh di pekarangan rumah.

“Sayuran yang bisa di budidayakan di pekarangan rumah dengan karakteristik temperatur yang umum misalnya kangkung, bayam, pakcoy, selada, tomat, kacang panjang, cabe, sawi dan terong,” pungkasnya. (Istihanah Soejoethi).

Terapi Hortikultura Cara Baru untuk Hilangkan Stres

Terapi Hortikultura Cara Baru untuk Hilangkan Stres

Universitas Borobudur – Hasil penelitian National University Healthcare System (NUHS) dan the National Parks Board (NParks), ketika seseorang pergi ke teman dan bergabung dalam aktivitas kelompok berkebun bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik. Cara ini disebut sebagai terapi hortikultura.

Menurut dr. Lonah, Sp.FK, di negara lain, orang yang memiliki kebiasaan bercocok tanam usianya jauh lebih panjang. Selain itu, mereka juga memiliki risiko penyakit degenaratif yang lebih rendah.

“Saya pernah baca artikel di negara lain, orang yang punya kebiasaan bercocok tanam memiliki umur yang lebih panjang dan memiliki risiko penyakit degenaratif yang lebih rendah dari mereka yang memiliki pekerjaan di perkotaan atau di bidang sekuler,” ujarnya saat dihubungi SariAgri, Jumat (12/6/2020).

Lonah mengatakan terapi hortikultura memang tidak secara spesifik dapat menyemuhkan, tetapi baik untuk tindakan preventif atau pencegahan. Karena kebiasaan bercocok tanam itu, dapat mengurangi risiko stres yang dapat berimbas terhadap penyakit lain.

“Perilaku seseorang yang suka bercocok tanam itu merupakan salah satu kebiasaan yang baik untuk menurunkan risiko stres. Artinya, kalau risiko stres tersebut diturunkan akan menurunkan risiko orang menderita penyakit degenaratif, baik penyakit jantung, penyakit diabet atau hipertensi,” katanya.

Sementara itu, pengajar Agroteknologi, Universitas Borobudur Fetty Dwi, mengatakan terapi hortikultura berdampak positif terhadap psikologis manusia melalui estika dan jenis tanaman yang dibudidayakan.

“Terapi hortikultura saat ini menjadi tren karena berdasarkan berbagai penelitian dilakukan teknik bercocok tanam dapat membawa dampak positif bagi psikologis manusia melalui estetika dari jenis tanaman yg dibudidayakan,” jelasnys.

Dikatakan Fetty, tanaman hias seperti bunga, daun anthorium , herba, buah, sayur dan tanaman semak cocok digunakan untuk terapi hortikultura.(Istihanah Soejoethi)

Bakti Sosial Mahasiswa FHUB Dalam Rangka Ikut Serta Mengurangi Penyebaran Covid 19

Bakti Sosial Mahasiswa FHUB Dalam Rangka Ikut Serta Mengurangi Penyebaran Covid 19

Bakti Sosial Mahasiswa FHUB dalam rangka ikut serta mengurangi penyebaran Covid 19 dengan penyemprotan cairan disinfektan di lingkungan kampus Universitas Borobudur dan pemberian paket sembako kepada petugas kebersihan.

Universitas Borobudur “Bebas Corona”

Ganti Bahasa »
X