Ahli : Tidak Ada Kekhawatiran Soal Regenarasi Petani

Ahli : Tidak Ada Kekhawatiran Soal Regenarasi Petani

Universitas Borobudur – Kementerian pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menyebutkan saat ini jumlah petani di Indonesia masih sangat kurang. Pasalnya, data menyebutkan jumlah petani tanah Air kurang dari 5 juta dan masih sangat kurang dibandingkan jumlah lahan pertanian yang ada.

Tetapi, angka tersebut tidak lantas membuat para ahli pertanian merasa khawatir. Seperti yang dikatakan dosen Pertanian Universitas Borobudur Jakarta, Fetty Dwi Rahmayanti saat dihubungi SariAgri.id, Minggu (26/7). Fetty mengatakan, saat ini belum ada kekhawatiran akan turunnya minat milenial terhadap dunia pertanian.

“Kekhawatiran akan turunnya minat milenial saat ini belum dirasakan, justru diprediksi akan semakin meningkat minat para milenial terhadap dunia pertanian,” kata dia.

Hal tersebut menurut Fetty, dibuktikan melalui data tiga tahun terakhir beberapa PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia, bahwa jurusan/prodi bidang pertanian seperti Agroteknologi dan agribisnis berada di urutan teratas yang sangat jarang terjadi dikurun waktu yang lalu-lalu.

“Dulu itu rata-rata prodi atau jurusan pertanian adalah prodi atau jurusan tidak favorit di bidang eksakta,” jelas dia.

Lebih lanjut Fetty mengatakan, saat ini juga banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) juga mulai berlomba mendirikan prodi pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan pasar terhadap lulusan pertanian memang cukup tinggi di Indonesia.

“Selain itu PTS (Perguruan Tinggi Swasta) pun mulai berlomba mendirikan prodi di bidang pertanian yang tak lain dikarenakan permintaan pasar yang cukup tinggi bagi lulusan pertanian dan tren dunia pertanian yang sudah mengalami transisi diera 4.0 saat ini,” jelas dia.

Bukti lain meningkatnya generasi milenial di dunia pertanian juga terlihat dengan semakin berjamurnya tren urban farming di kota-kita besar di Jakarta.

“Saat ini minat milenial terhadap dunia pertanian mulai meningkat ditandai dengan menjamurnya penggiat urban Farming yang digandrungi oleh para kaum milenial hingga kalangan generasi X bahkan lansia,” kata Fetty

Selain itu di era pertanian 4.0 ini juga banyak bermunculan e-commerce di bidang pertanian yang diminati kaum milenial. Salah satunya melalui menerapkan sistem jual beli online hasil pertanian dengan cara bermitra dengan para petani maupun kelompok tani.

Customer pertanian tidak lagi diwajibkan ke pasar untuk membeli kebutuhan tumah tangga, saat ini dengan adanya e-commerce, customer cukup stay di rumah atau di suatu tempat,” ucap dia.

“Jika menginginkan suatu produk pertanian cukup bermodalkan gadget atau gawai atau laptop, paket internet dan sejumlah uang, dapat memesan segala jenis produk pertanian dengan mengunduh berbagai aplikasi e-commerce pertanian di Playstore atau di situs internet,” jelas dia. (Sariagri.id/Istihanah Soejoethi)

Jadi Sumber Pangan Alternatif, Jagung Mampu Tembus Pasar Milenial

Jadi Sumber Pangan Alternatif, Jagung Mampu Tembus Pasar Milenial

Universitas Borobudur –Jagung merupakan salah satu hasil pertanian yang dapat dijadikan alternatif pangan pokok, jika terjadi kelangkaan beras. Selain rasanya enak, tanaman pertanian ini juga mudah untuk dibudidayakan.

“Pemilihan jagung sebagai salah satu alternatif sumber pangan penghasil karbohidrat tepat adanya. Apalagi jagung merupakan salah satu tanaman yang mudah dibudidayakan dan sesuai dengan kondisi ekologi dan iklim di Indonesia. Iklim di Indonesia dengan karakteristik suhu optimum 32-35 derajat celcius dan (jagung) mampu beradaptasi pada lahan kering,” ujar Pengajar Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Borobudur, Fetty Dwi, Selasa (9/6/2020).

Dia menjelaskan, biaya tanam jagung relatif lebih murah dibanding padi. Selain itu umurnya tanamnya juga singkat dan dapat dikembangkan dengan cara urban farming.

“Biaya tanam untuk jagung relatif murah dan tergolong tanaman yang cepat panen, sehingga saat ini jagung direkomendasikan sebagai salah satu komoditi pertanian yang dapat dikembangkan dalam urban farming dan dapat menjadi salah satu solusi untuk ketahanan pangan di tengah pandemi COVID-19,” jelasnya.

Menurut Fetty, nilai ekonomi jagung juga dapat bersaing di pasar. Karena dalam praktiknya jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai olahan, baik pangan maupun non-pangan.

“Dalam praktiknya jagung tetap dilirik masyarakat karena jagung dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai keperluan baik pangan maupun non pangan,” katanya.

Dikatakan Fetty, saat ini jagung mampu menembus pasar milenial. Dia mengatakan saat ini sudah banyak makanan kekinian yang dibuat dengan bahan dasar jagung seperti pop corn atau jasuke (Jagung susu Keju).

Namun, dia mengingatkan perlunya memperhatikan pengelolaan pasca-panen agar nilai ekonomi jagung tinggi di pasaran.

“Meningkatkan nilai ekonomi jagung tidak sulit, hanya saja saat ini diperlukan pengelolaan pasca-panen yang tepat untuk mempertahankan eksistensi jagung di pasaran baik dalam bentuk olahan produk, packaging dan sebagainya,” katanya. (Istihanah Soejoethi)

4 Kelebihan Urban Farming Dibanding Pertanian Konvensional

4 Kelebihan Urban Farming Dibanding Pertanian Konvensional

Universitas Borobudur – Urban Farming atau pertanian Perkotaan adalah salah satu cara bercocok tanam di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan lahan sempit dengan variasi teknik. Metode ini menjadi solusi masyarakat perkotaan yang ingin bercocok  tanam di tengah keterbatasan lahan.

Dalam penerapannya, urban farming mudah dilakukan masyarakat perkotaan dan hasilnya juga memiliki nilai ekonomi. Dengan memanfaatkan alat dan bahan sederhana dan lahan sempit, urban farming mampu menghasilkan produk pangan yang sama dengan pertanian konvensional.

Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Borobudur, Jakarta, Fetty Dwi R, mengungkapkan ada beberapa kelebihan urban farming dibanding pertanian konvensional. Apa saja kelebihan urban farming? .

1. Hemat biaya
Urban farming atau pertanian perkotaan tidak membutuhkan lahan luas. Metode ini bisa diterapkan di lahan sempit di perkotaan sehingga tidak membutuhkan modal besar. Ini berbeda dengan pertanian konvensional yang memerlukan lahan luas sehingga juga membutuhkan modal besar.

2. Ramah lingkungan
Urban farming atau pertanian perkotaan dikenal lebih ramah lingkungan karena dapat menggunakan sampah rumah tangga. Misalnya dengan memanfaatkan barang bekas seperti kaleng, pipa bekas, ember plastik yang tidak terpakai sebagai wadah (reuse) atau pot saat bercocok tanam.

Selain itu, sampah dapur dan sampah pekarangan juga dapat dimanfaatkan dengan diolah menjadi pupuk organik. Ini menjadi keunggulan ekologis dari urban farming dibanding pertanian konvensional.

3. Dapat menambah estetika
Selain sumber pangan, tanaman yang ditanam dengan metode urban farming juga dapat berfungsi untuk mempercantik pekarangan rumah. Ini tak lepas dari kerapian dalam penataan tanaman.

4. Menghasilkan produk yang sehat
Hasil produksi urban farming lebih sehat karena minim dalam penggunaan bahan kimia. Minimnya penggunaan bahan kimia karena ukuran media yang digunakan tidak terlalu besar dan luasan lahan yang relatif sempit sehingga penggunaan bahan kimia menjadi lebih sedikit. Berbeda dengan pertanian konvensional yang luas sehingga secara intensif menggunakan bahan kimia untuk perawatan tanaman. (Istihanah Soejoethi)

Ganti Bahasa »
X