9 Fakultas Universitas Borobudur Gelar Bakti Sosial Di Desa Antajaya – Cariu. Bogor

9 Fakultas Universitas Borobudur Gelar Bakti Sosial Di Desa Antajaya – Cariu. Bogor

Universitas Borobudur Jakarta – Bogor (22/12) – Dalam Rangka Perwujudan Pengabdian kepada masyarakat, Universitas Borobudur mengadakan Bakti Sosial di Desa Antajaya – Cariu (Bogor) pada tanggal 22 – 23 Desember 2020
 

 

 

 

 

 

Giat bakti sosial ini hasil sinergitas Universitas Borobudur, Koperasi JTS dan Mayora Grup. Dengan membagikan paket sembako berupa : beras, minyak, susu, sarden, dan beberapa produk Mayora Grup diserahkan langsung dikantor desa Antajaya.
Penyerahan Paket sembako diserahkan secara simbolis oleh Dr. Mega Barthos,SH.MM selaku Dekan Fakultas Hukum juga sebagai ketua pelaksana Abdimas kepada Andi Pamungkas, SH selaku kepala desa Antajaya yang didampingi sekda Antajaya.
Selain memberikan paket sembako, Mahasiswa dari 9 Fakultas universitas Borobudur turut mensosialisasikan protokol kesehatan Covid-19 kepada masyarakat sekitar yang hadir dikantor desa Antajaya.

 

 

 

 

Andi Pamungkas, SH selaku kepala desa Antajaya memberi apresiasi terhadap giat baksos tersebut diwilayahnya, ” Saya mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar universitas Borobudur pada kesempatan nya kali ini sudah peduli kepada masyarakat desa Antajaya.”ungkapnya
“InsyaAllah bantuan paket sembako ini bermanfaat bagi masyarakat khususnya desa Antajaya, Semoga Universitas Borobudur semakin jaya”. Tutup Andi.
Selanjutnya pada kesempatan yang sama giat baksos juga dilakukan di Pesantren Binauma Tebu Ireng, Cianjur.

Dengan memberikan paket sembako beserta buku bacaan kepada santri serta membagikan masker demi menjaga prokes Covid-19 demi tercapainya Indonesia Sehat dan pintar. (Red/23/12/2020)

Aeroponik Sistem Pertanian untuk Masyarakat Perkotaan

Aeroponik Sistem Pertanian untuk Masyarakat Perkotaan

Pandemi COVID-19 memaksa banyak orang untuk melakukan berbagai kegiatan di rumah, salah satunya berkebun. Selain sistem hidroponik, bercocok tanam juga dfapat dilakukan dengan metode aeroponik.

Menurut Chilean Journal of Agricultural Research, aeroponik adalah teknik modern untuk menumbuhkan tanaman pertanian dengan memberikan larutan nutrisi di udara tanpa tanah. Akar tanaman akan menerima nutris melalui semprotan dari nosel atomisasi.

Sementara itu dosen Fakultas Pertanian Universitas Borobudur Jakarta, Fetty Dwi mengatakan sistem aeroponik sangat cocok untuk masyarakat perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas.

“(Sistem aeroponik) tidak memerlukan lahan yang luas sehingga cocok untuk diterapkan pada urban farming,” ujar Fetty kepada SariAgri.id, beberapa waktu lalu.

Selain itu penerapan sistem hidroponik terbilang cukup mudah dan lebih efisien. Sementara kualitas produk yang dihasilkan tidak kalah dari tanaman yang dibudidayakan secara konvensional.

“Kelebihan aeroponik dari sistem tanam lain itu tanaman lebih mudah dipanen, perawatan mudah dan efisien, lebih hemat air dan pupuk, kualitas hasil tanam baik dan memiliki daya saing,” jelasnya.

Di Indonesua, sistem pertanain aeroponik sudah banyak diaplikasikan masyarakan perkotaan seperti di Surabaya dan Jakarta.

“Di Indonesia sudah banyak di terapkan terutama pada kota-kota besar yang menerapkan konsep urban farming seperti di Jakarta dan Surabaya banyak kelompok tani yang sudah menerapkan sistem aeroponik,” katanya.

“Pemerintah dan Perguruan Tinggi juga sudah banyak melakukan riset dan sharing pengetahuan budidaya aeroponik kepada masyarakat yang ada di Indonesia,” lanjutnya.

Meski demikian sistem aeroponik juga memiliki kekurangan. Tidak semua orang dapat menerapkan sistem pertanian aeroponik salah satunya karena membutuhkan biaya cukup besar.

“(Kekurangan sistem aeroponik itu) biaya perakitan dan instalasi cukup tinggi, sangat bergantung kepada energi listrik,” pungkas Fetty. (Istihanah Soejoethi)

Berita Pertanian – Dorong Pertumbuhan UMKM di Sektor Pertanian

Acara Pengkinian Koleksi Buku BI Corner & Webinar Tantangan mengelola perpustakaan di dalam menghadapi pendemi Covid 19

Acara Pengkinian Koleksi Buku BI Corner & Webinar Tantangan mengelola perpustakaan di dalam menghadapi pendemi Covid 19

Acara pada Pengkinian Koleksi Buku BI Corner yang bekerjasama dengan YPPI di Perpustakaan Universitas Borobudur dan Webinar bertemakan Tantangan mengelola perpustakaan di dalam menghadapi pendemi Covid 19 yang dibawakan oleh narasumber dari Perpustakaan Nasional dan Kemendikbud yang dihadiri oleh pimpinan dan staf Universitas Borobudur juga diikuti oleh mahasiswa Universitas Borobudur . Pada tanggal 26 November 2020

IKA PDH Unbor akan Beri Masukan soal UU Ciptaker

IKA PDH Unbor akan Beri Masukan soal UU Ciptaker

Jakarta, Universitas Borobudur – Ikatan Keluarga Alumni Program Doktor Hukum Universitas Borobudur (IKA PDH Unbor) Jakarta menggelar webbinar bertema “UU Cipta Kerja untuk Apa dan Siapa??” pada Selasa (27/10). Ketua Umum (Ketum) IKA PDH Unbor, Dr. Ronny F Sompie, S.H., M.H., mengatakan, webbinar ini untuk memberikan masukan secara komprehensif kepada pemerintah dari prespektif akademisi dan praktisi soal Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker).

Menurutnya, webbinar ini juga selain mendengarkan paparan dari pihak-pihak terkait, untuk kali ini sebagai narasumbernya yakni Dirjen Dukcapil Kemendagri, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrullah; Akademisi FH Untar, Dr. Ahmad Redi, S.H., M.H., dan Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto; juga menjaring masukan dari peserta yang berasal dari berbagai latar profesi dan keilmuan.

“Dari 3 narasumber berbeda ini, berharap wawasan berpikir kami, terutama 85 doktor hukum [alumni Unbor] dapat menambah wawasan. Kami juga aset yang bisa melakukan diseminasi kepada kawan-kawan kami,” katanya.

Menurut Ronny, desiminasi tersebut bisa dilakukan karena para alumni program doktor Unbor ini dari berbagai latar belakang profesi, di antaranya hakim, jaksa, polisi, TNI, dokter, akademisi, advokat, dan sebagainya

Ketum IKA PDH Unbor, Dr. Ronny F. Sompie

“Ini bisa memberikan diseminasi ikut serta membantu pemerintah untuk membantu juga kepada kawan-kawan dan masyarakat yang bisa kami jangkau,” ujarnya.

Adapun peserta webbiar kali ini, lanjut Ronny, terbuka untuk umum. Namun pihaknya secara khusus mengundang dari IKA PDH Unbor serta mahasiswa S1, S2, dan S3 Unbor.

“Webinar terbuka pada masukan-masukan termasuk kepada yang kritis, sehingga ketiga narasumber ini diharapkan bisa memberikan jawaban atas masukan-masukan, kita sangat terbuka karena di ruang akademis, kita bersifat ilmiah, kajian hukum. Oleh karena itu, diharapkan kajian ini nantinya kita lengkapi oleh tim kecil yang akan kita sajikan kepada pemerintah atau legislatif,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Webbinar IKA PDH Unbor, Hari Budihartono, menyampaikan, pihaknya akan secara rutin sebulan sekali menggelar webbinar, khususnya soal UU Ciptaker menghadirkan narasumber dari berbagai bidang untuk mengupas UU ini secara komprehensif.”Dari webbinar kali ini nanti kesimpulan kalau ada kekurangan akan diperbaiki, masalah yang menyangkut perundang-undangan dan hukum pasti kita akan kritisi sebagai akademisi,” ujarnya.

Ketua Program Doktoral (S3) Unbor, Prof. Dr. Faisal Santiago, S.H., M.M

Ketua Program Doktoral (S3) Unbor, Prof. Dr. Faisal Santiago, S.H., M.M., mengatakan, pada prinsipnya UU Cipta Kerja yang disahkan dalam sidang paripurna di DPR beberapa waktu lalu, prinsipnya secara keseluruhan sangat baik untuk memajukan bangsa Indonesia, di antaranya guna membuka lapangan kerja dan lain-lain sehingga bisa meningkatkan harkat hidup rakyat.

“Tetapi memang dalam pembentukan UU ini masih banyak kekurangan-kekurangan, harus kita perbaiki, harus direvisi, dan kalau perlu kita akan melakukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi,” ujarnya.Menurut Faisal, minimnya sosialiasi kepada semua elemen masyarakat menjadi hal mendasar dari pembahasan hingga pengesahan UU ini.

Akibatnya, terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. Webbinar yang dilakukan IKA PDH Unbor ini untuk mengkritisi UU Ciptaker.”Webbinar untuk mengkritisi UU tersebut sekaligus untuk menyosialisasikan kepada masyarakat luas bahwa UU ini prinsipnya baik untuk kita semua, terutama dalam menciptakan lapangan pekerjaan, memudahkan perizinan-perizinan,” ujarnya.Faisal mengungkapkan, sudah bukan merupakan rahasia umum bahwa perizinan dan birokasi di Indonesia masih sangat carut marut sehingga perlu ditata. Ia berharap IKA PDH Unbor bisa memberikan kontribusi untuk memperbaiki UU ini.

Ganti Bahasa »
X