Universitas Borobudur – Hasil penelitian National University Healthcare System (NUHS) dan the National Parks Board (NParks), ketika seseorang pergi ke teman dan bergabung dalam aktivitas kelompok berkebun bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik. Cara ini disebut sebagai terapi hortikultura.

Menurut dr. Lonah, Sp.FK, di negara lain, orang yang memiliki kebiasaan bercocok tanam usianya jauh lebih panjang. Selain itu, mereka juga memiliki risiko penyakit degenaratif yang lebih rendah.

“Saya pernah baca artikel di negara lain, orang yang punya kebiasaan bercocok tanam memiliki umur yang lebih panjang dan memiliki risiko penyakit degenaratif yang lebih rendah dari mereka yang memiliki pekerjaan di perkotaan atau di bidang sekuler,” ujarnya saat dihubungi SariAgri, Jumat (12/6/2020).

Lonah mengatakan terapi hortikultura memang tidak secara spesifik dapat menyemuhkan, tetapi baik untuk tindakan preventif atau pencegahan. Karena kebiasaan bercocok tanam itu, dapat mengurangi risiko stres yang dapat berimbas terhadap penyakit lain.

“Perilaku seseorang yang suka bercocok tanam itu merupakan salah satu kebiasaan yang baik untuk menurunkan risiko stres. Artinya, kalau risiko stres tersebut diturunkan akan menurunkan risiko orang menderita penyakit degenaratif, baik penyakit jantung, penyakit diabet atau hipertensi,” katanya.

Sementara itu, pengajar Agroteknologi, Universitas Borobudur Fetty Dwi, mengatakan terapi hortikultura berdampak positif terhadap psikologis manusia melalui estika dan jenis tanaman yang dibudidayakan.

“Terapi hortikultura saat ini menjadi tren karena berdasarkan berbagai penelitian dilakukan teknik bercocok tanam dapat membawa dampak positif bagi psikologis manusia melalui estetika dari jenis tanaman yg dibudidayakan,” jelasnys.

Dikatakan Fetty, tanaman hias seperti bunga, daun anthorium , herba, buah, sayur dan tanaman semak cocok digunakan untuk terapi hortikultura.(Istihanah Soejoethi)

Ganti Bahasa »
X